Puji Syukur Ya Robb

September 1st, 2005 by aringga

Seiring suara genderang bertalu menimpali bonang mengembang Mengalunkan tembang kesyahduan Palung-palung rasa merayapi relung kalbu Putaran roda waktu tlah mengantarkanku ke puncak ini Aku bersyukur atas semua yang terjadi padaku Untuk semua keberhasilan & kegagalan Untuk semua kebahagiaan & kesedihan Untuk semua kekuatan & keputus asaan Untuk semua tawa & air mata Untuk semua kesehatan & rasa sakit Untuk semua kemudahan & kesulitan Untuk semua pujian & penghinaan Dan untuk mereka yang selalu menguatkan diriku Hingga aku dapat menjalani semuanya Sungguh, aku hanya hamba-Mu yang tiada daya Terimakasih Tuhan…..

Perjuangan

September 1st, 2005 by aringga

Pohon terkuat di hutan

Bukanlah yang terlindungi dari

Badai dan tersembunyi dari matahari.

Pohon terkuat adalah yang berdiri di tempat terbuka

Yang mengharuskan ia berjuang hidup

Melawan angin dan hujan serta terik mentari

Tegakkan bahumu menghadapi dunia,

Jangan menjadi orang yang gampang menyerah;

Bukanlah beban yang memberatimu,

Melainkan caramu membawa beban itu

Hidup

July 10th, 2005 by aringga

Seperti apapun hidup, syukurilah……

Pahami dalam setiap rangkaiannya…

Pasti ada makna

Sebab……

Tak ada yang sia-sia di dalam hidupku, hidupmu, juga kehidupan ini….

WAKTU

July 10th, 2005 by aringga

“Waktu”.…..nafas yang tak kembali

Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya

Digulung hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa 

Nafasku terus berjalan, setia menuntunku ke pintu kematian

Sebenarnya dunialah yang kujauhi dan liang kuburlah yang kudekati…

Satu hari berlalu, berarti satu hari berkurang umurku

Umurku yang tersisa hari ini, sungguh tak ternilai harganya.

Sebab, esok hari belum tentu jadi bagian dari diriku….

Karena itu, jika satu hari berlalu tapi tiada pahala & keyakinanku yang bertambah,

apakah arti hidupku dimata ALLOH

Dua Jalan

July 10th, 2005 by aringga

   (Chicken Soup)

Ada sebuah jalan setapak

Jauh di dalam hutan

Yang lalu bercabang-

Baik dan rawan

Aku memilih menempuh

Jalan yang kiri,

Aku tak punya peta, tak pernah diberi,

Jalan yang kulalui ini,

Kotor dan rusak

Dipenuhi tebaran mimpi

Yang patah dan koyak

Dilapisi kesalahn

Dan ditebari hati,

Yang diambil dari manusia

Dan dicabik mati

Penderitaan dan penyesalan

Banyak ditemuakan di tempat ini

Kemanapun ku menoleh,

Berserakan disana-sini

Aku ingin menyeberang

Ke jalan setapak yang satu lagi

Dan meninggalkan di belakang

Kemarahan menyakitkan ini

Kukira aku akan selamanya

Ditakdirkan berjalan

Dan semua gerbang

Terkunci rapat-rapat  di kiri-kanan

Tapi ketika aku melanjutkan

Terlihat sebuah jembatan kecil,

Jembatan harapan

Memanggil namaku di tempat terpencil

Perlahan aku menyeberang

Menuju jalan kebaikan

Akhirnya aku berada di jalan setapak itu

Yang menurutku seharusnya

Sudah kulakukan

Kini tersembunyi jauh

di dalam hutan.

Yang bercabang;

Jalan baik dan rawan

Aku pernah salah ,

Tapi sekarang aku benar

Dan didepanku,

Berkilau penuntun, Sang sinar

Diubah oleh

Sebuah langkah kecil

Begitu dekat dengan kejatuhan

Di kedalaman gelap terkucil

Tapi aku akhirnya

Ditarik menuju harapan

Aku menemukan jembatan kecil itu,

Dan belajar menitinya pelan

Kesalahan sederhanaku

Mengikuti jalan yang lain

Mengabaikan hati

Yang berbicara keras bukan main

Pilihan yang kau ambil

Bisa mengubah hidupmu

Satu akan membawa kebahagiaan

Yang lain, penderitaan kalbu

Mengikuti yang lain ,

Tak kan membawamu kepada kemuliaan,

Jika kau mengikuti hatimu,

Kau akan dituntun terang kebenaran

Ada sebuah jalan setapak

Jauh di dalam hutan.

Yang lalu- bercabang –

Baik dan rentan

Dengarkan peringatanku,

Karena aku tahu.

Ikuti hatimu-

      Kau akan tahu, selalu

Sang Pejalan

July 10th, 2005 by aringga

berapa panjang jalan yang disusur,

pejalan merengkuh angin,

mungkin sebuah ingin,

galau yang tersisa

dari sebuah jeda,

tanya dan jawab,

makna dari keburaman rahasia

mencari telaga,

bening mata,

lunaskan dahaga

matahari,

rembulan,

gemintang,

kegelapan,

keremangan,

waktu,

usia,

menjelma dalam pusaran

ilusi atau nyata

"sebuah takdir atau kehendak bebas?", katanya

menatap langit,

mengayun juga kakinya,

menuju "apa"